Kota Pekanbaru
Mesjid Agung An-Nur
Mesjid Agung An Nur berdiri tanggal 27 Rajab 1388 H atau bertepatan dengan tanggal
19 Oktober 1968, Masjid Agung An-Nur diresmikan oleh Arifin Ahmad, Gubernur Riau waktu itu dan tahun
2000 pada masa gubernur Saleh Djasit mesjid ini direnovasi secara besar-besaran.
Masjid Agung An-Nur Riau yang kita saksikan begitu megah saat ini
bukanlah bangunan asli hasil pembangunan tahun 1966 dan diresmikan tahun
1968. Tapi merupakan bangunan hasil renovasi total dan pembangunan
kembali dari masjid Agung An-Nur yang lama. Di pergantian milenium tahun
2000 lalu, pada saat Riau dibawah kepemimpinan gubernur Shaleh Djasit,
Masjid Agung An-Nur yang lama di rombak total ke bentuknya saat ini.
Dari pembangunan tahun 2000 tersebut luas lahan masjid ini bertambah
tiga kali lipat dari sebelumnya yang hanya seluas 4 hektar menjadi 12.6
hektar. Luasnya lahan masjid baru ini memberikan keleluasaan bagi
penyediakan lahan terbuka untuk publik Pekanbaru termasuk di dalamnya
kawasan taman nan hijau dan lahan parkir yang begitu luas.
Dalam sejarahnya Masjid Agung An-Nur pernah menjadi kampus bagi
Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Syarif
Kasim Pekabaru di awal pendiriannya hingga tahun 1973. IAIN Sultan
Syarif Kasim kini Menjadi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim
(UIN SUSKA) Pekanbaru .
Kabupaten Kampar
Candi Muara Takus
Situs Candi Muara Takus dikelilingi oleh tembok berukuran 74 x 74
meter, yang terbuat dari batu putih dengan tinggi tembok ± 80 cm, di
luar arealnya terdapat pula tembok tanah berukuran 1,5 x 1,5 kilometer,
mengelilingi kompleks ini sampal ke pinggir
Sungai Kampar Kanan. Di dalam kompleks ini terdapat beberapa bangunan candi yang disebut dengan
Candi sulung /tua,
Candi Bungsu,
Mahligai Stupa dan
Palangka.
Para pakar purbakala belum dapat menentukan secara pasti kapan situs
candi ini didirikan. Ada yang mengatakan abad keempat, ada yang
mengatakan abad ketujuh, abad kesembilan bahkan pada abad kesebelas.
Namun candi ini dianggap telah ada pada zaman keemasan
Sriwijaya, sehingga beberapa sejarahwan menganggap kawasan ini merupakan salah satu pusat pemerintahan dari kerajaan
Sriwijaya.
Kabupaten Rokan Hilir
Kota Bagan Siapi-api
Ritual Bakar Tongkang
Ritual bakar tongkang adalah ritual tahunan etnis Tionghoa di Bagan
Siapi-api, Riau. Ritual ini untuk mengenang para leluhur yang menemukan
Kota Bagan Siapi-api dan wujud syukur terhadap Dewa Kie Ong Ya dan Dewa
Tai Su Ong. Jangan lewatkan acara ini!
Ritual ini bermula ketika
pada tahun 1826, ada sekitar 18 orang Tionghoa merantau dari Provinsi
Fu-Jian, China. Mereka berlayar menggunakan 3 kapal kayu yang disebut
tongkang. Di tengah
perjalanan, dua tongkang tenggelam. Tongkang yang selamat akhirnya sampai di suatu tempat yang saat itu masih berupa hutan.
Mereka
melihat cahaya api yang berkerlap-kerlip sebagai tanda adanya daratan.
Cahaya api itu ternyata berasal dari kunang-kunang (Si Api-api) yang
bertebaran di antara hutan bakau yang tumbuh subur di tepi pantai. Di
daerah yang tidak bertuan ini, mereka akhirnya mendarat dan membangun
tempat pemukiman baru yang kemudian dikenal dengan nama Bagan Siapi-api.
Adapun kata bagan sendiri mengandung makna sebagai tempat,
daerah, atau alat penangkap ikan. Di dalam tongkang yang selamat itu
terdapat patung dewa laut Ki Ong Ya dan Tai Su Ong. Ritual ini diadakan
pada tanggal 16 bulan kelima lunar setiap tahunnya atau dalam bahasa
Hokkien disebut dengan Go Cap Lak. Go berarti bulan kelima dan Cap Lak
berarti tanggal enam belas.
Kota yang berada di barat daya Riau
ini pernah mengalami masa jaya sebagai penghasil ikan terbesar kedua di
dunia setelah Norwegia sehingga dijuluki sebagai kota ikan. Namun,
kejayaan perikanan di Bagan Siapi-api lambat laun meredup. Oleh sebab
itu, satu abad setelah mendaratnya mereka di Bagan Siapi-api, warga
Tionghoa di Kabupaten Rokan Hilir menggelar ritual bakar tongkang untuk
menghormati dua dewa itu yang jadi perlambang keselamatan dalam
mengembara.
Dewa Ki Ong Ya dan Tai Su Ong juga dipercaya sebagai
dewa yang melambangkan dua sisi kehidupan, sisi baik-sisi buruk,
suka-duka, serta rezeki-bencana. Berdasarkan kebiasaan, masyarakat
Tionghoa akan membuat replika tongkang berukuran 8x2 meter. Sebelum
dibakar, tongkang tersebut diarak terlebih dahulu keliling Bagan
Siapi-api. Warga Bagan Siapi-api menyambut perayaan ini dengan memasang
lampion dan lukisan Dewa di rumah masing-masing.
Setelah diarak,
replika tongkang dibawa ke Klenteng Ing Hok King, sebuah tempat ibadah
tertua umat Kong Hu Chu yang terdapat di tengah kota. Perlu Anda
diketahui bahwa kelenteng ini dianggap paling sakral karena merupakan
satu-satunya bangunan yang selamat dan tetap utuh saat terjadi kerusuhan
massal pada 1998 silam.
Mereka memanjatkan doa-doa kepada Dewa,
agar kegiatan Bakar Tongkang diberkahi, selalu diberi keselamatan dan
dilancarkan segala urusan. Para warga Tionghoa secara keseluruhan
mengikuti prosesi saat tongkang tersebut diarak ke tanah lapang sebelum
dibakar. Iring-iringan juga diwarnai aksi para Tan Ki, yang memiliki
kekuatan dengan memukul-mukul tubuh menggunakan parang dan batu yang
diselimuti paku. Digelar juga panggung hiburan yang mendatangkan
penyanyi-penyanyi dari Taiwan, Malaysia dan
Singapura yang membawakan lagu berbahasa Hokkian.
Keesokan
harinya, barulah kapal diarak warga dalam sebuah pawai dan dibakar. Di
sekeliling kapal, ditumpuk ribuan kertas kuning berisi doa yang ditulis
para warga. Puncak prosesi ritual Bakar Tongkang adalah menyaksikan
jatuhnya tiang layar replika kapal tongkang. Berdasarkan kepercayaan
warga Tionghoa Bagan Siapi-api, kedua tiang yang disakralkan itu jika
jatuh menghadap laut diartikan sebagai tongkat ikan. Warga Tionghoa
percaya peruntungan di tahun tersebut akan banyak berasal dari laut.
Tetapi jika jatuhnya ke darat maka peruntungan banyak berasal dari
darat.
Secara spiritual, acara ini mengandung makna ucapan rasa
syukur atas suksesnya para leluhur yang membawa keluarga mereka menetap
di daerah perantauan. Tak heran jika orang Tionghoa yang menetap di luar
negeri pasti langsung merasa terpanggil untuk “pulang kampung” demi
merayakan tradisi tahunan ini. Sebab ada kepercayaan bila tidak ikut
ambil bagian dalam acara ini, maka akan ada malapetaka yang terjadi.
Ritual
tahunan ini telah menjadi agenda wisata bagi pemerintah Kabupaten Rokan
Hilir sebagai bagian dari program Visit Indonesia karena mampu menyedot
wisatawan baik dari dalam negeri maupun mancanegara seperti Malaysia,
Singapura, Thailand, Taiwan hingga China.
Kabupaten Siak
Mesjid Sultan
Mesjid ini dibangun pada masa Raja Hamidah Engku Putri (1784 – 1805),
istri dari Sultan Mahmudsyah, yang pada zamannya adalah Penguasa Riau.
Pada dasarnya Pulau Penyengat Indera Sakti dibangun menjadi negeri oleh
Sultan Mahmudsyah sebagai mahar perkawinannya dengan Raja Hamidah Engku
Putri.
Mesjid Raya Sultan Riau Penyengat selalu diberi warna Kuning –
Hijau, karena Kuning melambangkan Kerjaan, yang mana pada masanya Pulau
Penyengat Indera Sakti adalah Pusat Kerajaan Riau Lingga. Dan Hijau yang
berarti Islam. Warnanya yang kuning mencolok menjadikan bangunan ini
langsung terlihat dari dermaga panjang dan Pelabuhan Sri Bintan Pura
Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Tak hanya Mesjid Raya Sultan Riau
Penyengat yang diberi warna Kuning – Hijau, melainkan semua
bangunan-bangunan tua peninggalan Kerajaan Riau Lingga yang ada di pulau
tersebut.
Masjid Raya Sultan Riau Penyengat ini memiliki tiga belas kubah dan
empat menara setinggi sembilan belas meter. Jika jumlah kubah dan menara
dijumlahkan, maka hasilnya adalah tujuh belas yang mana merupakan
penunjuk jumlah bilangan rekaat salat dalam satu hari.
Masjid Raya Sultan Riau ini ditetapkan sebagai masjid pertama yang
memakai kubah pada atapnya. Satu hal yang sangat berbeda jika kita
berada di dalam Mesjid Raya Sultan Riau Penyengat yaitu bangunannya yang
kedap suara dan dapat meredam gema.
Makam Maruhum Buatanan
Pendiri Kerajaan Siak adalah Sultan Abdul
Djalil Rakhmadsyah bergelar Raja Kecil dengan pusat kerajaan di Buantan.
Beliau gigih berjuang membela kehormatan dalam merebut kembali
kekuasaan ayahandanya di Johor yang kemudian dapat diperolehnya kembali.
Beliau wafat tahun 1745 dan dimakamkan di Buantan dengan gelar Marhum
Buantan. Kini Makam Marhum Buantan merupakan obyek wisata religi yang
banyak dikunjungi wisatawan dan dapat dicapai dengan kendaraan air dari
Siak Indragiri selama 15 menit dengan mengendarai speed boat 25 pk.